Desa Manyampa Dorong Budidaya Kepiting Bakau untuk Hidupkan Tambak Terlantar
A
Oleh: AFFANDI
Selasa, 28 April 2026
Upaya menghidupkan kembali tambak-tambak yang tidak produktif di Kecamatan Ujung Loe mulai menunjukkan arah positif. Pada Minggu, 12 Oktober 2025, Desa Manyampa menjadi tuan rumah kegiatan sosialisasi budidaya kepiting bakau, sebuah langkah awal membangun ekonomi berbasis potensi lokal.
Kegiatan ini digagas oleh Kalla Foundation dengan melibatkan Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba sebagai narasumber utama. Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Desa Manyampa, Direktur BUMDes, Koordinator IISAP, serta para pembudidaya tambak yang antusias menyambut peluang baru ini.
Wilayah Ujung Loe diketahui memiliki total lahan tambak sekitar 2.200 hektare, namun banyak di antaranya belum termanfaatkan secara maksimal. Budidaya kepiting bakau dinilai sebagai solusi realistis dan menguntungkan, terlebih dengan kondisi tambak di Manyampa yang masih dikelilingi vegetasi mangrove alami.
Dalam penyampaian materinya, Kabid Budidaya Dinas Perikanan, Dani Susanto, menguraikan tahapan penting dalam mengelola tambak kepiting secara berkelanjutan.
"Pengelolaan air, kualitas tanah, pemilihan bibit unggul, serta pengendalian penyakit adalah kunci keberhasilan budidaya,” jelas Dani.
Sosialisasi ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat bahwa lahan tidur bisa menjadi sumber penghasilan, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dan dukungan teknologi budidaya modern.
Pemerintah desa dan lembaga pendamping berharap kegiatan ini menjadi awal dari perubahan besar dalam pemanfaatan tambak, dengan kepiting bakau sebagai komoditas unggulan yang tidak hanya menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan. ***
Kegiatan ini digagas oleh Kalla Foundation dengan melibatkan Dinas Perikanan Kabupaten Bulukumba sebagai narasumber utama. Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Desa Manyampa, Direktur BUMDes, Koordinator IISAP, serta para pembudidaya tambak yang antusias menyambut peluang baru ini.
Wilayah Ujung Loe diketahui memiliki total lahan tambak sekitar 2.200 hektare, namun banyak di antaranya belum termanfaatkan secara maksimal. Budidaya kepiting bakau dinilai sebagai solusi realistis dan menguntungkan, terlebih dengan kondisi tambak di Manyampa yang masih dikelilingi vegetasi mangrove alami.
Dalam penyampaian materinya, Kabid Budidaya Dinas Perikanan, Dani Susanto, menguraikan tahapan penting dalam mengelola tambak kepiting secara berkelanjutan.
"Pengelolaan air, kualitas tanah, pemilihan bibit unggul, serta pengendalian penyakit adalah kunci keberhasilan budidaya,” jelas Dani.
Sosialisasi ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat bahwa lahan tidur bisa menjadi sumber penghasilan, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat dan dukungan teknologi budidaya modern.
Pemerintah desa dan lembaga pendamping berharap kegiatan ini menjadi awal dari perubahan besar dalam pemanfaatan tambak, dengan kepiting bakau sebagai komoditas unggulan yang tidak hanya menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan. ***
Komentar
Tinggalkan Tanggapan
f
fajar
mantap